ArtikelMimbar Jumat

Ucapan Tanpa Bukti Adalah Bohong!

KHUTBAH JUM’AT
Jum‘at, 14 November 2025 M/23 Jumadá al-Ūlá 1447
Prof. Dr. Sudirman Abbas, M.A.

Khutbah I


اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين. 
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma‘āsyiral Muslimīn raḥimakumullāh,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt., dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tidak hanya menjadi kata, tetapi menjadi arah hidup dan cahaya hati. Takwa yang menahan kita dari perbuatan maksiat, mendorong kita pada kejujuran, dan memerdekakan kita dari belenggu nafsu duniawi. Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 177,


لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan sekadar pengakuan, tetapi harus dibuktikan dalam tindakan. Orang yang hanya berbicara tentang kebaikan tanpa melaksanakannya, sama saja dengan menipu dirinya sendiri.


Hadirin Jam’ah Jum’at yang Berbahagia,
Dalam khazanah ulama terdahulu, kita menemukan nasihat yang begitu tajam dan mendalam. Salah satunya datang dari Ḥātim al-Aṣamm, seorang ahli hikmah dan sufi besar yang terkenal dengan kejujuran dan ketenangan hatinya. Dalam kitab Nasā’iḥ al-‘Ibād karya ulama besar Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, disebutkan nasihat Ḥātim yang amat berharga:


مَنِ ادَّعَى أَرْبَعَةً بِلَا أَرْبَعَةٍ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ
“Barangsiapa mengaku empat perkara tanpa empat bukti, maka pengakuannya adalah dusta”
Ḥātim kemudian menguraikan:


مَنِ ادَّعَى حُبَّ اللَّهِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ تَعَالَى فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ. وَمَنِ ادَّعَى حُبُّ النَّبِيِ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَكَرِهَ الفُقَرَاءَ وَالمَسَاكِينَ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ. وَمَنِ ادَّعَى حُبَّ الجَنَّةِ وَلَمْ يَتَصَدَّقْ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ. وَمَنِ ادَّعَى خَوْفَ النَّارِ وَلَمْ يَنْتَهِ عَنِ الذُّنُوبِ فَدَعْوَاهُ كَذِبٌ .

“Barangsiapa mengaku cinta Allah Swt. tetapi tidak menjauhi larangan-Nya, maka pengakuannya dusta. Barangsiapa mengaku cinta Nabi Saw. tetapi membenci orang fakir miskin dan orang yang membutuhkan, maka pengakuannya dusta. Barangsiapa mengaku cinta surga tetapi tidak bersedekah, maka pengakuannya dusta. Dan barangsiapa mengaku takut neraka tetapi tidak berhenti dari dosa, maka pengakuannya dusta.

Saudara-saudaraku, Ma‘āsyiral Muslimīn raḥimakumullāh,
Empat pengakuan dan empat pembuktian ini adalah timbangan bagi kejujuran iman kita. Ḥātim al-Aṣamm tidak berbicara tentang teologi yang abstrak, tetapi tentang keaslian hati dan kebenaran amal. Ia menuntun kita agar iman tidak berhenti pada bibir, melainkan menjelma menjadi perilaku moral yang nyata.


Pertama, Ḥātim al-Aṣamm berkata: “Barangsiapa mengaku cinta Allah tetapi tidak menjauhi larangan-Nya, maka pengakuannya adalah dusta”. Berapa banyak manusia yang mengaku mencintai Allah, tetapi masih melakukan kecurangan, kebohongan, dan kezaliman?
Berapa banyak pejabat dan pemimpin yang berbicara tentang keimanan, namun tangan mereka menandatangani ketidakadilan dan korupsi? Berapa banyak masyarakat yang berteriak “Allahu Akbar” tetapi masih mengambil hak orang lain dan menindas sesamanya?


Cinta kepada Allah adalah cinta yang berbuah pengendalian terhadap diri. Ia menuntut integritas, bukan kemunafikan. Ia menuntut ketegasan untuk menolak suap, menolak dusta, dan menolak penyalahgunaan wewenang.
Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tapi juga bentuk pengkhianatan spiritual, karena orang yang mencintai Allah tidak mungkin berani melanggar batas yang telah Allah tetapkan.


Dalam konteks bangsa kita hari ini, cinta Allah berarti membangun kejujuran publik, menegakkan tanggung jawab moral di ruang-ruang kekuasaan, bisnis, dan pelayanan. Bila seorang pejabat masih berani mengambil yang bukan haknya, bila seorang pedagang masih menipu pelanggan, atau bila seorang guru masih menelantarkan amanah pendidikan, maka cintanya kepada Allah hanyalah kata kosong tanpa makna.


Kedua, Ḥātim al-Aṣamm berkata: “Barangsiapa mengaku cinta Nabi Saw. tetapi membenci fakir miskin, maka pengakuannya dusta.” Nabi Muhammad adalah manusia paling mulia yang hidup di tengah kaum miskin, duduk bersama mereka, makan bersama mereka, dan menangis bersama mereka. Beliau tidak pernah menolak tamu yang lapar, tidak pernah mengusir anak yatim, tidak pernah menganggap rendah siapa pun yang lemah.


Namun hari ini, banyak dari kita yang mencintai Nabi hanya dengan lisan, sementara hatinya tetap dingin terhadap penderitaan orang miskin. Kita membaca shalawat dengan suara yang merdu, tetapi menutup mata terhadap anak-anak yang putus sekolah, orang tua yang tidak mampu berobat, atau keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.


Cinta Nabi sejati bukan sekadar pada serban dan salawat, tetapi pada kepekaan sosial dan empati kemanusiaan. Kesenjangan sosial yang melebar di negeri ini adalah tanda bahwa cinta kita kepada Nabi belum hidup dalam tindakan. Di satu sisi, kita bangga dengan perayaan agama yang megah; di sisi lain, kita masih membiarkan tetangga lapar.

Maka, mencintai Nabi berarti memperjuangkan keadilan sosial; mencintai Nabi berarti mencintai mereka yang dicintai Nabi, para fakir, yatim, dan orang kecil. Barangsiapa mengaku mencintai Rasulullah tetapi memandang rendah kaum miskin, maka sesungguhnya ia telah memusuhi hati Rasul itu sendiri.

Ketiga, Ḥātim al-Aṣamm berkata: “Barangsiapa mengaku cinta surga tetapi tidak bersedekah, maka pengakuannya dusta.”

Cinta surga bukan diukur dari seberapa sering seseorang berdoa untuk memasukinya, tetapi dari seberapa banyak ia berkorban untuk orang lain.
Banyak orang menginginkan surga, tetapi tangannya enggan memberi; hatinya berat mengulurkan sedekah; pikirannya sempit dalam melihat kemaslahatan sosial. Padahal Allah berfirman dalam Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 92:


لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.”


Sedekah adalah bukti cinta surga. Karena surga bukan untuk orang yang hanya berdoa, tetapi untuk mereka yang berbuat.
Sedekah itu tidak mengurangi harta; ia menambah keberkahan, menumbuhkan solidaritas, dan memperkuat persaudaraan. Dalam konteks bangsa, sedekah berarti berpartisipasi dalam pembangunan, menolong pendidikan anak-anak miskin, membantu korban bencana, mendukung ekonomi umat, dan menghidupkan lembaga sosial.


Sayangnya, masih banyak dari kita yang lebih mudah mengeluarkan uang untuk kemewahan pribadi daripada untuk kemaslahatan bersama. Padahal setiap rupiah yang kita infakkan karena Allah adalah batu bata untuk membangun surga kita sendiri.


Keempat, Ḥātim al-Aṣamm menutup dengan kalimat yang tajam: “Barangsiapa mengaku takut neraka tetapi tidak berhenti dari dosa, maka pengakuannya dusta.” Takut neraka bukan sekadar rasa takut di hati, melainkan kekuatan untuk menahan diri dari perbuatan maksiat.
Banyak orang berkata “saya takut neraka,” tetapi lidahnya masih gemar berbohong, jemarinya masih menyebar fitnah (hoaks) di media sosial, matanya masih memandang yang haram, dan hatinya masih menanam dengki. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis sahih riwayat al-Bukhārī dan Muslim:


حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالمَكَارِهِ (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

“Neraka itu dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan (hawa nafsu), sementara surga dikelilingi dengan hal-hal yang sulit nan menjemukan”


Hadits ini menegaskan bahwa jalan menuju surga tidak pernah mudah. Ia penuh rintangan, pengorbanan, dan kesulitan.


Menolak sogokan adalah kesulitan. Menahan amarah di tengah provokasi adalah kesulitan. Menjaga kejujuran di tengah sistem yang rusak adalah kesulitan. Tapi justru di situlah letak cinta yang sejati, karena orang yang berjuang melawan hawa nafsunya itulah yang sedang berjalan menuju surga.


Sebaliknya, jalan menuju neraka tampak mudah, karena ia dikelilingi oleh kesenangan semu: kenikmatan sesaat dari dosa, syahwat kekuasaan, godaan dunia, atau kemalasan untuk berubah.
Maka jika seseorang benar-benar takut neraka, hendaknya ia membuktikannya dengan mujāhadah, dengan perjuangan menundukkan hawa nafsu dan menghindari dosa sosial: menolak hoaks, menghentikan fitnah, mengembalikan hak orang lain, dan menjauhi kedzaliman.


Hadirin Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,
Empat nasihat Hatim al-Asamm ini adalah cermin kejujuran iman. Ia menegaskan bahwa cinta dan takut kepada Allah bukanlah kata, tetapi amal. 
Cinta Allah harus tampak dalam integritas dan ketaatan. Cinta Nabi harus tampak dalam kepedulian sosial.


Cinta surga harus tampak dalam kemurahan hati dan semangat berbagi. Takut neraka harus tampak dalam pengendalian diri dan keberanian menolak dosa.


Jika umat Islam di negeri ini menegakkan empat hal itu, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang beriman dan bermartabat. Tetapi jika keempatnya hanya tinggal retorika, maka agama akan kehilangan kekuatannya untuk memperbaiki masyarakat.


Kita sering berkata bahwa kita adalah bangsa religius, tetapi masih ada kebohongan di pemerintahan, korupsi di birokrasi, ketimpangan sosial di jalanan, dan fitnah yang menyesakkan ruang publik.


Inilah saatnya kita kembali kepada kejujuran iman, menjadikan cinta kepada Allah sebagai sumber kejujuran publik, menjadikan cinta kepada Nabi sebagai sumber empati sosial, menjadikan cinta surga sebagai semangat berbagi, dan menjadikan takut neraka sebagai rem moral yang menahan kita dari maksiat.

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan doa yang khusyuk:


اللهم اجعلنا من عبادك الصادقين، الذين يصدقون في حبهم لك، ويجتنبون ما حرمت عليهم. اللهم ارزقنا حب نبيك محمد ﷺ حباً صادقاً يقودنا إلى خدمة الفقراء والمساكين، اللهم اجعل حبنا للجنة حافزاً للصدقة والعمل الصالح، وخوفنا من النار رادعاً عن الذنوب والمعاصي.

“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, teguhkanlah kami di atas kejujuran, jauhkan kami dari sifat riya dan dusta.
Ya Allah, jadikan negeri kami Indonesia negeri yang Engkau berkahi; pemimpinnya amanah, rakyatnya saling menolong, aparatnya jujur, dan ulamanya tulus dalam menuntun umat. Tegakkan di tengah kami keadilan dan kasih sayang, hilangkan keserakahan dan kedengkian, dan berilah kekuatan untuk melawan hawa nafsu kami sendiri”


بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وايّاكم بما فيه من الأيات والذّكر الحكيم وتقبّل الله منّني ومنكم تلاوته انّه هو السّميع العليم. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *