Anda di sini: Hal Depan > Artikel > Artikel Umum > Tradisi Pasang Lampu Gorontalo

Kalender Kegiatan

June 2017
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini488
mod_vvisit_counterKemarin1099
mod_vvisit_counterMinggu Ini965
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5025
mod_vvisit_counterBulan Ini21870
mod_vvisit_counterBulan Lalu23536
mod_vvisit_counterTotal1017661

Online (20 menit lalu): 39
IP Anda: 54.159.66.70
,
2017-06-25 13:45
Tradisi Pasang Lampu Gorontalo PDF Print E-mail

Padang tumbilotohe (Sumber : FNers Gorontalo)Tradisi Tumbilotohe (Pasang Lampu) saat ramadhan di Gorontalo

sumber: artikel Kompas

Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo.

Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri.
Barisan Lentera di Padang Tumbilotohe (Sumber : FNers Gorontalo)Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah.
Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Barisan Lentera di Padang Tumbilotohe (Sumber : FNers Gorontalo)Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.

Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu botol di depan rumah- rumah penduduk tampak memesona.

Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al Quran, sampai tulisan kaligrafi.

TUMBILOTOHE menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan mata sepanjang perjalanan menikmati lampu-lampu setiap rumah, kantor dan masjid.

Sepanjang Jalan (Sumber : FNers Gorontalo)

Beberapa yang menjadi ‘peramai’ dalam tradisi tumbilotohe, di antarnya sebagai berikut :


1. Kerangka Pintu gerbang (dalam bahasa gorontalo Alikusu)
Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.Alikusu (Sumber : FNers Gorontalo)Alikusu (Sumber : FNers Gorontalo)

 

2. Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo (Sumber : FNers Gorontalo)Pada masa kecilku permainan favorit di bulan puasa adalah Bunggo. Saling bales, saling adu kerasnya bunyi meriam bambu menjadi khas dalam permainan bunggo. Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan kecil. Sembari menggempur kampung dengan bunyi meriam, para remaja dan anak-anak berseru membangunkan warga agar tidak kebablasan tidur, “Sahur..sahur..”.Bunggo (Sumber : FNers Gorontalo)

Comments (7)
  • ryan  - mlm psng lampu
    huWanGaGo TumBilAtOhE...........?
  • Syahruldunggio@yahoo.com  - #_sTatuUzZ_#
    indAhx,,, TUMBILOTOHE d'gRontaLo,,, Hhmmt,,,,,, pNgIn cPAt" pLAng,,,,,???
  • sudarson kamsia
    rindu tumbilotohe dan lebaran di kampung
  • sudarson kamsia
    hallo tema2 di pauwo tunggu saya pulang
  • Majid Ishak  - Tumbilo tohe
    Sy sangat terkesan dg rubrik anda seolah sy ada di kampung halaman sendiri. Hal semacam ini sangatlah di perlukan seraya menggambarkan bhw gorontalo sangat eksis di berbagai segi kehidupan dan pembangunan sehingga orang dg mudah mengenalix dan juga sbg ajang promosi wisata gorontalo. Namun ada hal yg perlu sy tilik pada rubrik ini dan ijinkan sy tuk kementar sklgus menambahkan bhw tradisi tumbilo tohe bukan hanya eksistensi warga gorontalo tuk mengahiri ramadhan dan menyambut lebaran namun lebih pd keihlasan tiap insan tuk memberi penerangan di tiap depan rumah agar tiap insan dpt dg lancar tuk menghantarkan/ membayar zakat fitrah, maal, infaq, dan sadekah. Mk itu tumbilo tohe di adakan bukan 3 hari menjelang lebaran melainkan 5 hari sblm lebaran bersamaan dg datangx lailatulkadar dan dimulainya kegiatan BAZ. mgkn begitu yg sy tau dan maaf jk seolah menggurui. jk salah anggap tak pernah ada komentar ini dan jk bisa di terima mk jadikanlah sbg tambahan pengayaan khasanah tradisi dan budaya gorontalo agar gorontalo lebih dikenal di luar. Tarima kase ma bolo maapu botiye. mamohindhupoma'o.
  • Gun Aslah
    Masukkan yang bagus dan patut diapresiasi. saya yakin sang penulis akan menerima masukkan ini dan mungkin akan mengedit untuk membuat tulisannya menjadi lebih faktual.
  • sulastri  - indahx gorontalo
    Gorontalo kota bersih.dan maju terusss...
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.