Anda di sini: Hal Depan > Artikel > Artikel Umum > Pejuang Islam yg terasing di tanah minahasa

Kalender Kegiatan

June 2017
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini491
mod_vvisit_counterKemarin1099
mod_vvisit_counterMinggu Ini968
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5025
mod_vvisit_counterBulan Ini21873
mod_vvisit_counterBulan Lalu23536
mod_vvisit_counterTotal1017664

Online (20 menit lalu): 37
IP Anda: 54.159.66.70
,
2017-06-25 13:53
Pejuang Islam yg terasing di tanah minahasa PDF Print E-mail

Pejuang Islam yg terasing di tanah minahasa


Banyak yang tidak mengetahui, di ujung utara pulau sulawesi dimana mayoritas penduduknya beragama non-muslim terdapat Oase terakhir para pejuang-pejuang islam yang diasingkan oleh penjajah karena perjuangan mereka pada Abab ke-18 dalam menegakkan syariat islam dan melawan penindasan oleh penjajah pada masa itu.

Mereka berasal dari daerah yang sekarang ini disebut Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan dan Sumtera Utara (Aceh). Meskipun total jumlah mereka tidak sebanyak kelompok Kyai Modjo yang telah diasingkan sebelumnya, namun keberadaan mereka di Oase terakhir yang sekarang  disebut Kampung Jawa Tondano yang terletak di tengah kota Tandano, kab.Minahasa, Sulawesi Utara telah turut mempengaruhi budaya masyarakat kampung Jawa Tondano dikemudian hari.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat perjuangan para pendahulunya dan tidak ada salahnya para pejuang-pejuang terasing yang mungkin kurang dikenal ini kita kenang sebagai penghormatan terhadap perjuangan mereka dan semoga menjadi suri teladan buat anak cucu kita nantinya agar perjuangan tidak berhenti untuk menegakkan syariat islam dan membangun bangsa ini.


Para pejuang yang diasingkan ke Kampung Jawa Tondano setelah Kyai Modjo tersebut adalah:


Tahun 1846 : Kyai Hasan Maulani (Asal Lengkong Cirebon)

Pada seperempat abad 18 tarekat syattariyah adalah tarekat yang paling tersebar luas di daerah Banyumas. Diperkirakan, tarekat ini bersumber dari murid-murid Syekh Abdul Mukhyi, Garut, seorang mursyid tarekat Syattariyah yang mendapatkan ijazah irsyad-nya dari Syekh Abdurrauf Singkel, Aceh. Di Banyumas, Syattariyah menciptakan varian baru yang menggabungkan beberapa ajaran tarekat lain, seperti Rifaiyah dan Naqsabandi-Qodiriyah. Tarekat ini dikenal dengan nama tarekat Akmaliyah/Kamaliyah. Kyai Hasan Maulani adalah guru sekaligus pendiri tarekat Akmaliyah di Cirebon.

Mendasarkan pada studi Drewes, Bruinessen dan Steenbrink menyatakan bahwa Akmaliyah merupakan tarekat yang kental dengan ajaran wahdatul wujud dan sinkretisme Jawa.

Banyaknya pengikut tarekat Akmaliyah menakutkan penguasa saat itu. Hal ini mendorong Belanda membuang Kyai Hasan Maulani ke Tondano pada tahun 1846.


Tahun 1848 : Pangeran Ronggo Danupoyo (Asal Surakarta Jawa tengah)

Pangeran Ronggo Danupoyo adalah anak dari Pangeran aryo Danupoyo atau cucu dari Sunan Pakubuwono IV di Surakarta Jawa Tengah. Beliau menentang kebijakan Belanda, dank arena itu ia dibuang ke Tondano. Di kampung Jawa Tondano Ronggo Danupoyo menikah dengan putri dari Suratinoyo dan memperoleh 6 orang anak, satu anaknya kembali ke Jawa sedangkan 5 anaknya yang lain (2 laki dan 3 perempuan) tetap tinggal di kampong Jawa Tondano. Dari 2 orang anak laki-lakina (Raden Glemboh dan Raden Intu) menurunkan keluarga (fam) Danupoyo sekarang ini.


Tahun 1850-an : Imam Bonjol (Asal Sumatra Barat)

Peto Syarif yang kemudian lebih dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Ia dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian daribeberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol. Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan Padri di Sumatra, yang pada mulanya menentang perjudian, adu ayam, penggunaan opium, minuman keras, tembakau, dll., tetapi kemudian mengadakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang mengakibatkan perang Padri (1821-1838).

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berhasil diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun, dikebumikan di Desa Lotak Pineleng berjarak 25 km dari Tondano ke arah Manado.

Bebrapa pengikut Imam Bonjol kemudian menikah dengan wanita kampung Jawa Tondano adalah; Malim Muda (menikah dengan cucu Kyai Demak), Haji Abdul Halim (menikah dengan Wonggo-Masloman), Si Gorak Panjang (menikah dengan putri Nurhamidin), dan Malim Musa. Dari (diantara) mereka menurunkan keluarga (fam) Baginda di Minahasa dewasa ini.


Tahun 1861 : K.H. Ahmad Rifa'i (Asal Kendal, Jawa Tengah)

Kiai Haji Ahmad Rifai dilahirkan pada 9 Muharam 1200 H atau1786 di desa Tempuran Kabupaten Semarang. Beliau sorang ulama keturunan Arab, memimpin suatu pesantren di Kendal Jawa Tengah. Setelah beberapa kali keluar masuk penjara Kendal dan Semarang karena dakwahnya tegas, dalam usia 30 tahun.

Tahun 1272 H ( 1856 ) adalah merupakan tahun permulaan krisis bagi gerakan Kiai Haji Ahmad Rifai . Hal ini disebabkan hampir seluruh kitab karangan ( dan Hasil tulisan tangan beliau ) disita oleh pemerintah Belanda , disamping itu para murid dan Ahmad Rifai sendiri terus - menerus mendapat tekanan Belanda . Sebelum Haji Ahmad Rifai diasingkan dari kaliwungu Kendal Semarang , tuduhan yang dikenakan hanyalah persoalan menghasut pemerintah Belanda dan membawa Haji Ahmad Rifai dipenjara beberapa hari di Kendal , Semarang dan terakhir di Wonosobo .

Tahun1859 Ahmad Rifa’i diasingkan Belanda ke Ambon, kemudian diasingkan lagi ke Tondano pada tahun 1861 bergabung dengan group Kyai Modjo. Di Kampung Jawa Tondano K.H Ahmad Rifa’i menciptakan kesenian terbang (rebana) disertai dengan lagu-lagu, syair-syair, nadzam-nadzam yang diambil dari kitab karangannya.

K.H Ahmad Rifa’i wafat di Kampung Jawa Tondano pada Kamis 25 Robiul Akhir 1286 H atau tahun 1872 (usia 86 tahun) dan dimakamkan dikomplek makam Kyai Modjo.


Tahun 1880: Sayid Abdullah Assagaf (Asal Palembang, Sumatra selatan).

Sayed Abdullah Assagaf adalah orang Arab yang lahir di Palembang, Sumatra Selatan. Belanda mengasingkannya ke Tondano pada tahun 1880 kerana menganggapnya menghasut masyarakat untuk melawan Belanda. Di Palembang Assagaf konon ia menikah dengan wanita Belanda (Nelly Meijer) putri Residen Bengkulu. Dari perkawinannya dengan wanita Belanda ini ia memperoleh satu orang anak laki-laki (Raden Nguren/Nuren). Sebelum nenikah dengan Assagaf, Nelly Meijer adalah janda beranak satu dari perkawinannya dengan adik Sultan Palembang (Mahmud Badaruddin II). Nelly Meijer dan kedua anaknya kemudian menyusul ke Kampung Jawa Tondano dan Raden Nuren kemudian menikah dengan wanita Minahasa asal Remboken. Anak Nelly Meijer yang satunya lagi (hasil perkawinan dengan adik sultan Palembang) menikah di Kampung Jawa Tondano dan menurunkan keluarga (fam) Catradiningrat.

Di Kampung Jawa Tondano Sayed Abdullah Assagaf menikah (lagi) dengan Ramlah Suratinoyo dan memiliki 7 orang anak, dan dari mereka menurunkan keluarga (fam) Assagaf di Kampung Jawa Tondano.

Keberadaan Abdullah Assagaf di Kampung Jawa Tondano telah men”distorsi” budaya kampung Jawa Tondano yang semula sangat kental dengan budaya jawa. Abdullah Assagaf berhasil mentransfer dan mengawinkan budaya Arab-Sumatra dengan budaya jawa dan melahirkan budaya jaton generasi ketiga.


Tahun 1884:Gusti (Pangeran) Perbatasari (Banjarmasin, Kalimantan).

Pangeran Perbatasari melakukan pemberontakan terhadap Belanda namun kemudian ia tertangkap di daerah Kutai ketika dalam perjalanan membeli persenjataan dan tahun 1884 diasingkan ke kampung Jawa tondano.

Di Kampung jawa Tondano Pangeran Perbatasari menikah dengan dengan wanita JATON. Satu orang saudara laki-lakinya (Gusti Amir) kemudian menyusul ke Kampung Jawa Tondano dan menikah dengan wanita JATON (fam.Sataruno).


Tahun 1889 : Banten Group.

Pada tanggal  9 Juli 1888 di Cilegon (Banten – Jawa Barat) meletus perlawanan rakyat (disebut Geger Cilegon) terhapap pemerintah colonial Belanda. Geger Cilegon dipimpin oleh pemuka islam Cilegon antara lain Haji Abdul karim (pemimpin tarekat di Lempuyang), Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid (pemimpin pesantren di Beji-Bojonegara, beliau murid Syekh Nawawi Al Bantani). Pada saat itu Banten sedang dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883 yang merenggut 20.000 juta jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada tahayul dan perdukunan.

Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak diindahkan.H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke pengadilan (18 Nopember 1887), belaiu didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para pendukungnya.

Selain itu, penyebab terjadinya persitiwa berdarah, Geger Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel juga melarangang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang keras.

Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan pemberontakan. Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas - juru tulis Kantor Asisten residen - dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak disenangi oleh masyarakat. Cilegon dapat dikuasai oleh para pejuang "Geger Cilegon". Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran hebat dengan persenjataan yang tak seimbang antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan.

Haji Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon dan lain-lain. Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang.

Dari jumlah tersebut ada 4 orang yang dibuang ke kampung Jawa Tondano dan kemudian menikah dengan wanita Jaton, mereka adalah Haji Abdul Karim (menikah dengan fam Haji Ali) keturunannya menggunakan fam Aslah, Haji Muhammad Asnawi (menikah dengan fam Haji Ali) , Haji Jafar (menikah dengan fam Maspekeh) dan Haji Mardjaya. Keturunan mereka menggunakan fam Tubagus.


Tahun 1895: Tengku Muhammad / Umar (Asal Aceh).

Tengku Muhammad atau Tengku Umar (bukan Tengku Umar pahlawan Aceh) diketahui tidak mempunyai keturunan di jaton.


Tahun 1900: Haji Saparua (Asal Maluku).

Haji saparua menikah di Tondano (Babcock, 1989) namun tidak ada catatan mengenai keturunannya.

---

Diambil dari beberapa sumber.

Comments (11)
  • Mursaha Piola
    wow.... bener2 satu sejarah yg sebelumnya tidak ada dalam pemikiranq!!!
  • syarwani canon  - haji arsyad thawil
    apakah haji arsyad tawil bukan di buang ke manado? atau ada 2 oarang yang bernama sama. saya adalah keturunan arsyad thawil yang berasal dari banten yang dibuang ke manado.
  • syarwani canon  - haji arsyad thawil
    setahu saya haji arsyad thawil yang berasal dari banten dibuang ke manado. saya adalah keturunan beliau (di manado) yang sekarang berdomisili di gorontalo. atau mungkin ada arsyad thawil yang lain.
  • Gun Aslah
    Apa yang ditulis berdasarkan catatan sejarah yang ada Pak. Manado sendiri adalah ibukota Sulawesi Utara. Dulunya sulawesi utara terdiri dari Minahasa, Sangihe talaud, Gorontalo dan Bolaangmongondow. Saat ini Gorontalo berdiri sendiri menjadi provinsi baru. Untuk marga Thawil saat ini lebih banyak berada di Gorontalo dan menjadi marga yang cukup di kenal di Gorontalo. Mungkin bapak termasuk turunan Haji Arsyad thawil yang hijrah ke Manado, sama seperti kami turunan Haji Abdul karim (Fam Aslah) yang saat ini lebih banyak berada di Manado, Jakarta dan kampung Langowan di Minahasa. Di Gorontalo sendiri terdapat kampung jawa juga. ceritanya kampung ini didirikan oleh para pejuang yang diasingkan ke Minahasa (Manado) tapi kemudian mereka hijrah ke Gorontalo dengan berjalan kaki melewati hutan belantara sejauh hampir 500Km.
  • darulquthni  - Mohon info Detail tentang HAJI ABDUL KARIM LEMPUYA
    Salam, Akhi.. mohon info tentang. Haji Abdul Karim (menikah dengan fam Haji Ali) keturunannya menggunakan fam Aslah. Didaerah banyak yang msh blm dapat kejelasan tentangnya. karena sejak meletusnya perang banten 1888. banyak yang menyebutkan posisinya kembali ke mekkah menjadi pimpinan tertinggi tareqat qodariyah-naqsabandi. sehingga banyak sejarawan yang mengatakan Haji Abdul Karim tidak ikut peperangan. akhi , mungkin antum tau banyak tentang ini, mohon di berkan informasinya. sehingga dapat memperkaya khazanah literasi yang ana susun melalui page : http://www.facebook.com/pages/JEJAK-HAJI-ABDUL-KARIM-LEMPUYANG-HANTU-PERLAWANAN-VOC-1883-1888/105304839502521
  • Gun Aslah
    Khusus untuk garis keturunan, saat ini sudah ada buku silsilah/garis keturunan marga-marga yang berasal dari Jawa Tondano. Sayangnya saya tidak memiliki buku tersebut dan hanya sempat membaca silsilah dan garis keturunan untuk marga Aslah dan Lamsu(Lamusu). Jika ingin mendapatkannya, mungkin bisa menghubungi http://jaton.forummotion.com/f2-kpg-jawa-tondano siapa tau ada yang bisa membantu.
  • syarwani canon  - Makam KH Aryad Thawil
    Penjelasan Bapak kalau tidak salah bersumber dari Wikipedia. Foto pada alamat dibawah ini dapat menjelaskan kekeliruan penjelasan Bapak. http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/181075_10151482763379015_1878427911_n.jpg
  • Yedi Triyatna  - jejak moyang
    sy adalah keturunan H.Haris yg dibuang Belanda ke Bukittinggi dan sekelumit sejarah tsb meyakinkan sy akan perjuangan para ulama Banten yg selama ini hanya sy dengar dari cerita orang tua sy.salam...
  • Gunawan Aslah
    Waalaikumsalam. Salam buat keluarga di Bukittinggi kang.
  • Sri Rahayu Zees
    terima kasih atas informasinya. Saya ingin mencari informasi keluarga yang mungkin selama ini belum diketahui. Saya sendiri adalah keturunan dari (gabungan dari pihak ayah dan ibu) kelompok kiay modjo (kiay Baderan dan Temenggung pajang), banten (haji Jaafar) dan kalimantan (Gusti Perbatasari. Barangkali ada saudara dari garis keturunan yang saya sebutkan. Terima kasih
  • Rahmin Fadillah  - Sri Rahayu Zees
    Dear Mbak Sri Rahayu Zees Assalamu'alaikum Mbak Saya keturunan dari Gusti Perbatasari dari Banjarmasin Amuntai kalau Mbak mau mencari silsilah keturaunan Gusti Perbatasari silahkan datang ke kalimantan Selatan tepatnya kota Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara disana ada silsilah yang lengkap. Sebenarnya Gusti Perbatasari bernama Gusti Muhammad Tarip anak dari Panembahan Muhammad Said, Panembahan Muhammad Said anak dari Pangeran Antasari yaitu Raja Kalimantan Selatan. Demikian yang dapat yang saya sampaikan, untuk lebih jelasnya silahkan datang ke Kalimantan Selatan.
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.