Anda di sini: Hal Depan > Berita > Latest > Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H

Kalender Kegiatan

June 2017
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini468
mod_vvisit_counterKemarin942
mod_vvisit_counterMinggu Ini3306
mod_vvisit_counterMinggu Lalu5391
mod_vvisit_counterBulan Ini25531
mod_vvisit_counterBulan Lalu23536
mod_vvisit_counterTotal1021322

Online (20 menit lalu): 44
IP Anda: 54.146.5.43
,
2017-06-29 12:21
Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H PDF Print E-mail

IDUL FITRI

MENGUATKAN FITRAH KEISLAMAN,

MENGOKOHKAN NILAI KEMANUSIAAN

 

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1437 H

Di Masjid Vila Inti Persada, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten

 


 

 Oleh :

Prof. Dr.  H. Asep Usman Ismail, M.A.

Guru Besar Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Anggota Tim Pengkaji dan Penyusun Tafsir Tematik Kementerian Agama R.I.

Anggota Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur`an

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر الله أكبر  الله أكبر.  الله أكبر  الله أكبر الله أكبر.   الله أكبر, الله أكبر,  الله أكبر. لاإله إلا الله والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد.   الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا  وسبحان الله بكرة وأصيلا. لاإله إلا الله وحده, صدق وعده,  ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. الله أكبر ولله الحمد.  

المحد لله الذي أحلنا في هذا اليوم الطعام, وحرم علينا فيه الصيام وختم فيه الشهر المكرم, وافتتح يه شهور حج بيت الله الحرام. وقد جعلنا خيرا أمة أخرجت للناس نأمر بالمعروف وننهى عن المنكر. أحمده سبحانه وأشكره لا أحصى ثناء عليه. وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, بعثه الله بالهدى والرحمة. فدعاو جاهد وبلغ ونصح حتى أعز الله به الدين وأقام به الحجة صلى الله عليه وسلم. اما بعد. عباد الله, اتقوا الله وأطيعوه ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.  

 

 

 

 

A. Pendahuluan

 

Tidak terasa detik-detik waktu dalam hidup kita berubah jadi menit. Menit demi menit bertambah hingga genap menjadi satu jam. Kumulatif dari setiap enam puluh menit yang kita lewati menggenapkan waktu hidup kita menjadi 24 jam hingga akhirnya berubah menjadi satu hari. Hari demi hari yang kita jalani menjadi satu minggu, dan minggu demi minggu membawa kita kepada pengalaman hidup satu bulan. Tidak terasa Ramadhan telah meninggalkan kita. Selamat jalan bulan penuh berkah. Selamat jalan bulan penuh rahmah. Selamat jalan bulan pengampunan dan pembebasan dari api neraka.

Pertemukan kembali kami, “Ya Allah Yang Maha Rahman, kepada Ramadhan yang akan datang”. Belum lepas dari ingatan kita, sahabat, kerabat, tetangga, keluarga, dan kenalan yang pada hari-hari yang lalu bersama kita. Kini telah tiada, migrasi ke alam barzakh. Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Begitu cepat waktu berlalu.

 

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi waktu, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Q.S. Al-’Ashr/103: 1-3).

 

Hari ini umat Muslim merayakan ’Idul Fitri 1437 H. Hari yang ditunggu-tunggu. Hari ketika manusia beriman meraih kebahagiaan hakiki. Menemukan makna hidup dan hidup yang bermakna, setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan agenda qiyamul lail, serta berbagai ibadah sosial seperti zakat, infak dan sedekah, serta santunan kepada kaum dhu’afa, fakir-miskin dan anak yatim. Ramadhan adalah pendidikan dan pelatihan bagi kaum beriman. Seluruh amaliah Ramadhan hingga ’Idul Fitri yang disyariatkan Islam dan dicontohkan Rasulullah adalah kurikulum terpadu dalam mengembangkan kualitas kualitas hidup kaum Muslimin, terutama Tarbiyyat al-Akhlâq, pendidikan akhlak dan charakter building agar orang-orang beriman menyadari fitrah keislaman dan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan melalui kesalehan sosial dalam sisa usianya.

 

B. Makna Fitrah dan Idul Fitri

 

Fithrah atau fithri secara bahasa bisa berasal dari kata futhûr yang berarti sarapan pagi., bisa juga berarti kejadian. Sementara itu, di dalam Al-Qur`an istilah fithrah memiliki dua pengertian. Pertama, fitrah berarti kejadian manusia yang suci. Kedua, fithrah adalah al-Islâm, yakni agama yang lurus, agama yang sesuai dengan akal budhi dan nurani manusia. Sementara itu, perkataan  عيد(‘îd) berasal dari kata kerja  عاد  يعود عودا  (âda, ya’ûdu, ‘awdan) yang berati kembali ke tempat semula, datang kembali berulang-ulang atau siklus seperti matahari kembali terbenam di waktu magrib dan terbit di waktu pagi, yang terjadi secara rutin.

Dengan demikian, ‘idul fithri dapat dibagi ke dalam tiga model. Pertama, ‘idul fithri kembali sarapan pagi. Orang beriman yang menemukan ‘idul fithri hanya sekedar kembali sarapan pagi, tidak mendapatkan apa pun dari puasa Ramadhan, kecuali lapar dan dahaga. Ramadhan baginya hanya sebuah rutinitas yang tidak membawa dampak apa pun bagi pengembangan dirinya. Kedua, ‘idul fithri kembali kepada fithrah, yakni kembali kepada kejadian atau jati diri manusia yang suci. Ketiga, ‘idul fithri berarti kembali menghayati dan mengamalkan dîn al-Islâm, agama yang hanif; agama yang sesuai dengan akal budhi dan nurani manusia secara kâffah. Dalam hal ini, Allah mewajibkan orang-orang beriman berpuasa pada bulan Ramadhan dalam mendidik dan membimbing manusia supaya menyadari fitrahnya yang suci, bahwa pada hakikatnya manusia itu tidak bisa lepas dari Allah, tergantung kepada Allah, dan sangat membutuhkan Allah. Perhatikanlah ayat Al-Qur`an yang berikut:

 

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ. مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

 

 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui; dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan  Allah.  (Q.S. al-Rum/30: 30-31)

Fiţaratallâh (فطرت الله) secara bahasa berarti ciptaan Allah. Maksudnya, agama Allah, agama Islam, merupakan ciptaan Allah, (fitrah)-Nya untuk kebaikan seluruh umat manusia.  Sebagian ulama tafsir mengartikan fitrah denga kejadian. Maksudnya, Allah menciptakan manusia dengan fitrah atau kejadian, yang bresifat pembawaan sejak lahir, yaitu bahwa manusia membutuhkan Tuhan. Dengan kejadian itu, seorang anak sejak lahir menjadi makhluk bertuhan. Manusia sejak usia dini memahami dan membutuhkan Tuhan sesuai dengan perkembangan akal dan pengetahuannya. Kejadian atau fitrah manusia berbeda dengan kejadian atau fitrah binatang yang tidak sampai kepada pengetahuan tentang Tuhannya. Fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan Tuhan itu dijamin oleh Allah tidak akan pernah mengalami perubahan; namun mungkin saja manusia dalam perjalanan hidupnya mengabaikan fitrah ini sehingga ia merasa tidak membutuhkan Tuhan, bahkan menyatakan dirinya tidak bertuhan. Dengan demikian, istilah fitrah secara bahasa  mempunyai dua pengertian, yakni kejadian manusia dan agama yang benar, yaitu agama Islam.

Kebutuhan manusia kepada Allah yang merupkan fitrah atau kejadiannya tersebut ditegaskan oleh di dalam ayat Al-Qur`an yang berikut:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (فاطر: 15)

 

Wahai manusia ! Kamu sekalian membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu), lagi Maha Terpuji. (Q.S. Fâthir/35: 15)

 

 

Pada ayat ini, istilah الفقراء (al-fuqarâ`) bentuk jamak dari الفقير (al-faqîr) merupakan kata kunci untuk memahami pesan ayat secara komprehensip. Istilah الفقراء (al-fuqarâ`)  atau الفقير (al-faqîr) secara bahasa berarti orang yang membutuhkan. Perkataan  الفقر (al-faqr) yang menjadi akar kata الفقير (al-faqîr), menurut Al-Raghib al-Ashfahani berarti:

 

وجود الحاجة الضرورية وذلك عام للإنسان مادام في دار الدنيا بل عام للموجودات

Adanya kebutuhan mendasar yang berlaku universal bagi seluruh manusia selama (hidup) di dunia, bahkan merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh makhluk hidup).

 

Dengan demikian, menurut hemat penulis, penggalan ayat Al-Qur`an pada Surah al-Fathir ayat 15 di atas yang berbunyi:    أنتم الفقراء إلى الله  mengandung makna fundamental, yakni bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah sebagai kebutuhan mendasar yang berlaku universal bagi seluruh manusia sejak di dunia hingga di akhirat, bahkan kebutuhan kepada Allah itu merupakan kebutuhan seluruh makhluk.

Di dalam Al-Qur`an ada dua makna fakir (al-faqîr) yang secara bahasa berarti seorang membutuhkan, dalam konteks sosial ekonomi dan dalam konteks  eksistensi manusia. Pengertian pertama merupakan pengertian umum tentang istilah al-faqîr dan al-fuqarâ` di dalam Al-Qur`an sehingga kebutuhan yang terkandung di dalam istilah ini mengacu kepada konteks sosial ekonomi. Maksudnya, bahwa seorang yang fakir adalah seorang yang sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan, tetapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga masih membutuhkan bantuan. Oleh sebab itu, menurut Ibn Manzhur, seorang fakir lebih baik keadaannya dibandingkan dengan seorang miskin. Orang miskin itu adalah orang yang tidak memiliki sesuatu apa pun.

Kedua, eksistensi manusia. Pengertian ini hanya disebut pada Surah al-Fathir ayat 15 ini, tetapi kandungan maknanya bersifat universal  dan bersifat primordial. Maksudnya bahwa manusia secara univerasal membutuhkan Allah dan tergantung kepada-Nya, baik yang fakir maupun yang kaya. Kebutuhan kepada Allah ini bersifat primordial karena merupakan akar dan asal kejadian manusia sehingga menyangkut eksistensi manusia. Salah satu wujud kebutuhan manusia kepada Allah ini, dalam istililah al-Raghib al-Ashfahani disebut dengan faqr al-nafs, yakni kebutuhan jiwa manusia untuk memiliki, mengakses, dan mendapatkan asupan rohani guna pengayaan batin.

Sementara itu, Muhammad ’Ali al-Shabuni ketika menafsirkan penggalan ayat يأيها الناس أنتم الفقراء إلى الله  (Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah) menyatakan bahwa al-khithâb (pesan) ayat ini ditujukan kepada seluruh umat manusia guna mengingatkan mereka tentang nikmat Allah kepada manusia bahwa seluruh manusia membutuhkan Allah untuk kelangsungan hidup mereka dalam segala keadaan, baik ketika bergerak maupun ketika diam.

Dalam pada itu Abu Hayan berkata: ”Ayat ini merupakan ayat nasihat dan peringatan bahwa sesungguhnya umat manusia secara universal membutuhkan kebaikan (ihsân) Allah dan nikmat-nikmat-Nya dalam segala keadaan mereka. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak membutuhkan kebaikan (ihsân) Allah kepadnya walaupun hanya sekejap mata; sedangkan Allah secara mutlak Mahakaya, tidak membutuhkan manusia dan seluruh makhluk.

Sejalan dengan pandangan dua ulama tafsir di atas, di dalam Al-Qur`an dan Tafsirnya terbitan Departemen Agama R.I. disebutkan, bahwa ayat ini menerangkan bahwa manusia sangat berkepentingan kepada Penciptanya yaitu Allah karena semua manusia membutuhkan pertolongan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, seperti kekuatan, rezeki, menolak bahaya, mendapat kenikmatan, ilmu dan sebagainya, baik urusan dunia maupun akhirat. Semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan rahmat dan taufik Allah.

Hanya Allah yang wajib disembah dan diharapkan rida-Nya. Ia Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu. Maha Terpuji atas nikmat yang telah dianugerahkan kepada para hamba-Nya. Setiap nikmat yang dimiliki oleh manusia berasal dari sisi-Nya. Dialah yang seharusnya dipuji dan disyukuri dalam segala hal. Di ayat lain Allah menegaskan: Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Allah benar-benar Mahakaya, Maha Terpuji. (al-Hajj/22:64).

Sementara Syaikh ‘Abd al-Rahman bin Nashir al-Sa’diyyi ketika menjelaskan maksud Surah Fathir ayat 15 ini menulis, bahwa Allah SWT dalam ayat ini berbicara kepada manusia secara universal, memberitahukan keadaan mereka, dan menjelaskan sifat dasar manusia bahwa manusia itu membutuhkan Allah dalam berbagai aspek kehidupan sebagai berikut:

(1) Manusia membutuhkan Allah dalam penciptaan. Sekiranya Allah tidak berkehendak untuk menciptakan manusia, maka manusia tidak akan pernah ada (dalam pelanet bumi ini).

(2) Manusia membutuhkan Allah dalam membekali diri mereka dengan berbagai daya (kekuatan,   kemampuan, kecerdasan, emosi dan spiritual), anggota tubuh, dan panca indera. Sekiranya  Allah tidak membekali manusia dengan berbagai daya, kecanggihan anatomi dan biologi manusia yang sempurna dan proporsional; maka manusia tidak akan pernah sanggup memikul tanggung jawab dan menjalankan kehidupan ini dengan baik.

(3) Manusia membutuhkan Allah dalam menjamin tersedianya sumber-sumber makanan, rizki dan kenikmatan lahir batin. Sekiranya tidak ada karunia Allah, kebaikan dan kemudahan-Nya kepada manusia dalam menjamin dan menyediakan sumber-sumber makanan, rizki dan kenikmatan lahir batin; maka manusia tidak akan pernah sanggup menjamin tersedianya sumber-sumber makanan bagi seluruh makhluk hidup.

(4) Manusia membutuhkan Allah dalam menolak berbagai bencana;  menjauhkan dari dari berbagai hal yang tidak dikehendaki; serta meringankan berbagai beban hidup yang memberatkan punggung. Sekiranya Allah tidak menentukan mekanisme untuk meringankan beban hidup manusia dan menghilangkan penderitaan mereka, niscaya beban hidup dan penderitaan manusia tersebut tidak akan pernah berakhir.

(5) Manusia membutuhkan Allah dalam mendidik dan mengembangkan dirinya dengan berbagai pendidikan dan pelatihan guna menyempurnakan koalitas hidup dan kehidupannya secara terus menerus.

(6) Manusia membutuhkan bimbingan Allah dalam mengorientasikan dirinya menjadi manusia yang bertuhan, mencintai Tuhannya, serta menggerakan dirinya untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Sekiranya Allah tidak memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada seseorang di antara manusia, niscaya manusia akan mengalami krisis kemanusiaan yang dahsyat; jiwa, kalbu, suasana hati,  mental dan spiritualnya menjadi rusak dan akan membawanya kepada kenestapaan hidup dunia dan akhirat.

(7) Manusia membutuhkan pengajaran langsung dari Allah tentang segala sesuatu di dalam hidup ini yang tidak sanggup diketahuinya secara pasti oleh akal dan fikiran mereka. Manusia pun membutuhkan Allah untuk bisa menggerakkan hatinya guna melakukan perbuatan yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi sesama manusia. Sekiranya hidup manusia mengalir tanpa pengajaran langsung dari Allah yang mengarahkannya untuk melakukan berbagai kemaslahatan bagi sesama manusia, niscaya  manusia tersebut tidak akan pernah mendapatkan kearifan dalam hidup ini. Sekiranya hidup manusia mengalir tanpa taufik dan hidayah-Nya, niscaya ia akan menjalani hidup dengan kegelapan ruhani hingga tidak akan sanggup memperbaiki kualitas perbuatannya bagi kemaslahatan dirinya sekalipun.

(8) Manusia membutuhkan Allah untuk menemukan makna hidup dalam segala keadaan, baik dalam keadaan menyadari kebutuhannya kepada Allah maupun dalam keadaan tidak menyadarinya. Orang yang mendapat taufik dari Allah senantiasa melihat dirinya dalam keadaan membutuhkan Allah dalam segala keadaan, baik berkenaan dengan urusan dunia maupun agama. Manusia yang menyadari kebutuhannya kepada Allah akan senantiasa rendah hati, selalu memohon kepada Allah agar dirinya tidak melupakan Tuhan walaupun sekejap mata, menolong orang (untuk kembali kepada Allah) dalam semua aspek kehidupan, serta menyadari setiap waktu bahwa sikap ini sepenuhnya atas pertolongan Allah yang lebih sayang kepada manusia melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anak-anaknya.

Menurut Ibn Katsir, Surah Fathir ayat 15 di atas, “menjelaskan bahwa Allah SWT Mahakaya, tidak membutuhkan sesuatu dari selain diri-Nya; dan sesungguhnya seluruh makhluk membutuhkan Allah dan merendah di hadapan keagungan-Nya. Maka Allah pun berfirman: “Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah”, dalam pengertian seluruh manusia secara universal membutuhkan Allah dalam gerak dan diam; sedangkan Allah SWT Mahakaya secara mutlak dan absolut. Maka Allah pun menegaskan: ”dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu), lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Fathir/35: 15). Dia dalam kesendirian-Nya Mahakaya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Maha Terpuji dalam semua yang dilakukan, ditetapkan, ditakdirkan dan disyariatkan-Nya.

Melengkapi pandangan di atas, Ahmad Mustafa al-Maraghi ketika menafsirkan Surah Fathir ayat 15 di atas, menyatakan: ”Kamu sekalian, wahai hamba-hamba Allah adalah orang-orang yang butuh kepada pencipta kamu sekalian yang memberikan rizki kepada kamu sekalian; maka hanya kepada-Nyalah kamu sekalian beribadah dan hanya keridaan-Nyalah yang kamu usahakan (dalam hidup ini). Dia Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah kalian. Dia Maha Terpuji atas nikmat-nikmat-Nya. Semua kenikmatan yang dirasakan oleh kamu dan yang dirasakan oleh makhluk-makhluk selain kamu berasal dari Dia. Maka hanya untuk Allah segala puji dan segala rasa syukur dalam segala keadaan.

Sementara itu al-Qurthubi ketika mejelaskan tafsir Surah Fathir ayat 15 di atas yang berarti “Wahai manusia! Kamu sekalian membutuhkan Allah”, menyatakan: ”Kamu adalah orang-orang yang membutuhkan Allah dalam memperjuangkan kelangsungan hidup kamu dalam segala keadaan”. Menurut al-Zamakhsyari, seorang ahli tata bahasa Arab Al-Qur`an, jika anda bertanya, mengapa Allah menggunakan istilah الفقراء (al-fuqarâ`) pada ayat di atas dalam bentuk definite (ma’rifah) dengan menggunakan kata sandang   أل(al)? Maka jawabannya menurut pendapat kami, ”Perkataan الفقراء (al-fuqarâ`) dimaksudkan bahwa Allah memperlihatkan kepada manusia kekhususan manusia, bahwa manusia itu sesungguhnya sangat membtuhkan Allah, meskipun makhluk-makhluk yang lain pun membutuhkan Allah; karena ada korelasi antara kebutuhan kepada Allah dengan keadaan manusia yang lemah. Makin lemh keadaan manusia, makin nyata kebutuhannya kepada Allah. Sementara Allah pun menyatakan bahwa manusia diciptkan dalam keadaan lemah seperti terlihat pada ayat Al-Qur`an yang berikut:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا 

 

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah (Q.S. al-Nisâ`/4: 28).

 

 

Dari pandangan para mufassir di atas, dapatlah dirumuskan sebuah gambaran tentang hakikat manusia, menurut perspektif Al-Qur`an, bahwa manusia tidak akan pernah tampil dalam pentas kehidupan ini tanpa kehendak mutlak Allah untuk mewujudkannya. Manusia tidak akan pernah bisa lepas dari Allah, karena Allah tidak menghendaki manusia menjadi makhluk otonom. ِAllah hadir, dekat dan terlibat sepenuhnya dalam kehidupan manusia sebagaimana ditegaskan di dalam penggalan ayat Al-Qur`an yang berikut: الله لاإله إلا هو الحي القيوم لاتأخذه سنةولانوم  (Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Q.S. al-Baqarah/2: 255). Menurut Muhammad ’Ali al-Shabuni, ”Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur seperti disebutkan dalam hadits: إن الله لاينام ولا ينبغى له أن ينام يحفض القسط ويرفعه   (Sungguh Allah tidak pernah tidur dan tidak layak tidur bagi Allah. Beliau meninggikan dan merendahkan timbangan (amal perbuatan manusia).

Hakikat ketergantung manusia kepada Tuhan, menurut Al-Qur`an, dan konsep keterlibatan Tuhan dalam urusan manusia tergambar pada ayat Al-Qur`an yang berikut:

 

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (الرحمن: 29)

 

Apa yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (Q.S. al-Rahman/55: 29)

 

 

Menurut Muhammad ‘Ali al-Shabuni, Surah al-Rahman ayat 29 di atas menjelaskan bahwa, “Semua makhlak secara universal yang berada di langit maupun di bumi membutuhkan Allah. Makhluk-makhluk itu memohon, mencari dan meminta pertolongan dan rizki kepada Allah, baik dengan bahasa yang terungkap secara lisan (lisân al-maqâl) maupun dengan bahasa aksi (lisân al-hâl) sehingga setiap detik Allah SWT dalam kesibukan tentang berbagai urusan makhluk. Mengampuni dosa hamba-hamba,  meringankan beban penderitaan manusia, mininggikan harkat dan martabat sekelompok manusia serta merendahkan harkat dan martabat kelompok manusia yang lain.

Konsep Tuhan, menurut perspektif Al-Qur`an, tidak seperti konsep Tuhan yang digambarkan aliran filsafat Deisme yang meyakini bahwa Tuhan ada dan manusia itu ciptaan Tuhan, tetapi Tuhan telah membekali manusia dengan akal budhi dan hati nurani sehingga manusia menjadi makhluk otonom, tidak perlu berdoa dan tidak tergantung kepada Tuhan. Manusia bisa mengembangkan akal budhinya untuk menciptakan kebudayaan, mengembangkan sains dan menciptakan teknologi guna memudahkan hidup dan kehidupannya. Konsep Tuhan kaum Deisme  memiliki kemiripan dengan konsep Tuhan aliran Mu’tazilah. Dalam pandangan Mu’tazilah perbuatan manusia ditentukan oleh manusia sendiri. Tuhan menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal dan nurani. Manusia dalam konsep Mu’tazilah adalah makhluk otonom. Memiliki kebebasan untuk bertindak dan kebebasan untuk memilih.

Pendirian para filosof tersebut merupakan hasil pemikiran spekulatif. Tuhan mereka jauh, bersifat tarnasendental, impersonal, tidak berhubungan dengan dunia dan kehidupan manusia. Tuhan mereka tertutup dari kehidupan manusia. Pendirian serupa ini, jika ditimbang dengan konsep Tuhan di dalam Al-Qur`an, jelas secara mutlak tidak dapat diterima. Tuhan itu, menurut Al-Qur`an mengetahui, mendengar, melihat dan memelihara kehidupan ini. Dia yang menghidupkan dan mematikan manusia dan Dia pula menyediakan sarana hidup ini. Ibn Taymiyyah menegaskan, bahwa menurut Al-Qur`an Tuhan terlibat dalam segala kehidupan manusia.

Demikianlah, gamabaran singkat tentang fitrah manusia menurut Al-Qur`an. Manusia sudah selayaknya memihak, mengikuti dan mengembangkan fitrahnya secara benar dengan meyakini, memahami dan menerapkan ajaran Islam serta dengan mewujudkan amal saleh, baik kesaelahan individu maupun kesalehan sosial. Islam adalah  agama fitrah, agama yang menjadi kebutuhan manusia secara intelek, emosi, ruhani dan sosial. Wa Allâh a’lam bi al-shawwâb 

الخطبة الثانية

الله أكبر x 7  الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا.  لا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

الحمد لله الذى جعل صوم رمضان ركنا من أركان الإسلام. ووفق معتنقه بالصلاة في المساجد. أشهد أن لا إله إلا الله شهادة تنجى قائلها من الندم والخدلان. وأشهد ان محمدا عبده ورسوله الذي أرسله الله بشيرا ونذيرا وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه الذين اقتربوا إلى الله في السر والعلن.  أما بعد.

فيا عباد الله ! أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون.  قال الله تعالى في القرأن العظيم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم فاعف واصفح إن الله يحب المحسنين.

الله أكبر ولله الحمد  3 أيها المسلمون زينوا أعيادكم بالتكبير والتحميد وقال الله تعالى  ولتكبروا الله على ما هدىكم ولعلكم تشكرون.

فاذكروا الله العظيم يذكركم, واشكروه على نعمه يزدكم, واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله أكبر. جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين برحمتك يا أرحم الراحمين. 

 

 

Comments (0)
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.