Anda di sini: Hal Depan > DR.H.Fuad Thohari, M.A. > Ghîbah

Kalender Kegiatan

January 2018
S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Waktu Sholat

[ Tukar Kawasan ]
Tutup

Login Form



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini115
mod_vvisit_counterKemarin1301
mod_vvisit_counterMinggu Ini2439
mod_vvisit_counterMinggu Lalu6538
mod_vvisit_counterBulan Ini15221
mod_vvisit_counterBulan Lalu31587
mod_vvisit_counterTotal1193330

Online (20 menit lalu): 49
IP Anda: 54.226.179.247
,
2018-01-17 03:07
Ghîbah PDF Print E-mail

Ghîbah

Oleh: H. Fuad Thohari (Sekretaris Komisi Fatwa MUI DKI Jakarta)


Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Ayat ini antara lain berisi larangan berbuat ghibah (gosip atau menggunjing) yang pengertiannya didefinisikan  Rasulullah Muhammad saw, ketika  ditanya sahabat-sahabatnya,  Apa yang dimaksud dengan ghibah itu”? Beliau menjawab, “Ghibah, Engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa yang ia tidak sukai”. Apa pendapatmu wahai Rasulullah, jika perkara yang aku katakan itu ada pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika memang perkara yang kamu katakan itu ada padanya maka sungguh kamu telah menggunjingnya dan jika perkara yang yang kau katakan itu tidak ada padanya maka sungguh engkau telah melakukan kebohongan yang besar.


Dari riwayat hadis di atas, ulama kemudian mendefinisikan ghîbah dengan arti: menggunjing orang lain yang tidak hadir di hadapannya dengan sesuatu yang jika dia mendegarnya pasti tidak suka. Jika keburukan yang disebut itu faktanya tidak ada, dinamai buhtân (kebohongan besar).


Dalam perspektif agama Islam, walaupun keburukan yang diungkap penggunjing faktanya ada, tanpa argumen yang dapat dibenarkan, keburukan itu  tetap dilarang untuk dibeberkan. Dari sini bisa dimengerti, mengapa agama Islam mengajarkan agar kita hanya berbicara hal-hal yang baik dan perlu. Jika tidak ada hal baik yang perlu dikatakan, sebaiknya diam (fal yaqul khoiran au liyashmut). Nabi Muhammad saw mengingatkan,  jika kamu berbicara maka pembicaraan itu merupakan perwujudan dari zikir (nuthqy zikran); jika kamu diam maka diamnya itu merupakan manifestasi dari berfikir (shumti fikran); dan jika kamu melihat maka penglihatan itu merupakan perwujudan dari mengambil pelajaran (nazary ’ibratan).


Imam Al-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar mengatakan,  “ghibah, engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai. Apakah ghibah itu menyangkut dimensi fisik, agama, akhlak, harta, anak, orang tua, istri, pembantu, pakaian, cara jalan, atau hal lain yang terkait dengan diri orang tersebut. Sama saja, apakah engkau menyebut tentang orang itu dengan lisan,  tulisan, isyarat mata, atau dengan tanganmu? Misalnya engkau mengatakan, si fulan buta, pincang, picak, gundul, pendek, tinggi, atau berkulit hitam;  atau engkau berkata, si fulan itu fasik, pencuri, pengkhianat, zalim, meremehkan shalat,  tidak berbuat baik kepada orang tuanya, tidak memberikan zakat pada tempatnya; atau engkau berkata, si fulan itu kurang beradab, meremehkan manusia, banyak bicara tidak ada aksi, banyak makan dan tidur, dan lain-lain. Termasuk ghibah, menirukan atau memperagakan atau memparodikan style atau gaya seseorang untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahannya, misalnya menirukan cara berjalannya dengan membungkuk, menirukan cara berbicara orang yang cedal, dan sebagainya.


Ghibah merupakan santapan lezat bagi siapa saja. Setiap berkumpul, reuni, atau arisan, jarang sekali dalam forum ini bisa selamat dari membicarakan aib orang lain. Tetangga, teman, ipar, suami/isteri,  orang tuanya sendiri, dll.  tidak luput dari objek gosip. Setan datang menghiasi dan membumbui obrolan mereka, sehingga yang hadir dalam forum itu merasa hanyut dan asyik berghibah, lupa akan ancaman Allah dan Rasul-Nya terhadap perbuatan nista ini. Yang menyedihkan, perbuatan ghibah itu tidak hanya menimpa orang yang tidak peduli dengan agamanya. Bahkan tidak jarang, orang-orang yang  mengerti hukum Islam justeru tenggelam dalam perbuatan ghibah alias menggunjing. Begitulah salah satu cara setan menyesatkan anak Adam.


Ghibah atau menggunjing orang lain, merupakan dosa yang lumprah dilakukan manusia secara kolektif. Tanpa merasa bersalah, kita tertawa-tawa ketika tahu bahwa si fulan rahasianya dibongkar dan ditelanjangi temannya sendiri. Padahal, ghibah termasuk dosa besar, bukan dosa kecil yang pantas diremehkan. Nabi Muhammad saw  menyamakan pelaku ghibah dengan kanibal yang memakan daging saudaranya sendiri. Ibnu Mas'ud pernah berkata, "Kami pernah berada dalam satu majlis Nabi Muhammad saw, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis itu, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia pergi. Spontan  Nabi Muhammad saw berkata kepada laki-laki ini, ”Berselilitlah kamu!” Dengan nada heran orang tersebut bertanya, ”Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya sebelum ini tidak makan daging”? Nabi Muhammad saw kemudian berkata, ”Sesungguhnya baru saja engkau memakan daging saudaramu".


Bukankah dosa riba relative  sangat besar, sementara  dosa yang paling ringan adalah seperti berzina dengan ibu sendiri?  Ternyata, dosa riba yang paling berat itu dosanya disejajarkan dengan ghibah. Nabi Muhammad saw bersabda, riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”.  Begitu juga dalam al-Quran,  Allah swt menyerupakan perbuatan ghibah ini dengan memakan bangkai manusia yang telah mati, dengan firmannya (terjemahan Al-Hujurat/49:12) sbb.: “Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentunya kalian tidak menyukainya (merasa jijik). Artinya, sebagaimana (secara tabiat) kalian tidak suka (jijik) untuk memakan bangkai manusia (kanibal), hendaknya (secara syari’at) kalian juga tidak suka untuk melakukan ghibah, karena hukuman perbuatan ghibah ini lebih berat. Allah menyebutkan perumpamaan (ilustrasi) seperti ini untuk menjauhkan atau memperingatkan manusia agar tidak  berbuat ghibah.


Rasulullah Muhammad saw dalam khutbahnya di Mina ketika haji Wada’ mengingatkan akan tingginya kehormatan kaum muslimin sehingga tidak layak untuk direndahkan dengan perbuatan ghibah. Beliau  bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian haram atas kalian seperti keharaman/kehormatan hari kalian ini (yakni hari Nahar tanggal 10 Dzulhijjah), pada bulan kalian ini (yakni bulan Dzulhijjah sebagai salah satu bulan Haram).


Rasulullah Muhammad saw lebih lanjut mengingatkan, “Wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan lisannya namun iman itu belum masuk (belum sampai) ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum Muslimin, jangan kalian mengghibah (menggunjing) mereka dan mencari-cari kejelekan mereka, karena sesungguhnya siapa yang mencari-cari kejelekan saudaranya yang muslim niscaya Allah akan mencari-cari kejelekan dan siapa yang dicari-cari kejelekannya oleh Allah,  Allah akan membeberkan kejelekan tersebut walaupun di tengah rumahnya”.


Ketika ‘Aisyah --istri yang paling dicintai Rasulullah Muhammad Saw-- menjelekkan madunya, maka beliau segera menegur dan mengingatkan perbuatan ‘Aisyah. Cinta dan sayang beliau yang begitu besar kepada Aisyah tidak menghalangi beliau untuk menasehati dan menyalahkan perbuatannya. Ketika itu dengan nada cemburu ‘Aisyah berkata,“Wahai Rasulullah cukup bagimu Shafiyah, dia begini dan begitu”. Salah seorang perawi hadis mengomentari  hadis ini, “Yang ‘Aisyah maksudkan, Shafiyah itu pendek”. Mendengar hal itu Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Aisyah, sungguh engkau telah mengucapkan satu kata yang seandainya kata tersebut dicampurkan dengan air laut niscaya dapat mencemarinya.”


Ghibah memang  begitu ringan diucapkan lisan namun berat dalam timbangan kejelekan amal. Terjadi silang pendapat di antara ulama, apakah ghibah termasuk dosa kecil atau dikatagorikan dosa besar? Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subul al-Salam mengatakan,  “Terjadi silang pendapat di antara Ulama,  apakah ghibah ini termasuk dosa kecil atau dosa besar?” Saya sependapat dengan imam Al-Qurthubi yang meyakini, telah terjadi konsensus atau ijma’ (kesepakatan ulama),  ghibah termasuk dosa besar.” Argumen  Imam Ash-Shan’ani yang menunjukkan besarnya dosa ghibah antara lain: hadis yang diriwayatkan Sa’id bin Zaid, Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya termasuk perbuatan riba yang paling puncak adalah melanggar kehormatan seorang muslim tanpa haq, yakni ghibah. Riwayat hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud. Bahkan ada siksa yang secara khusus diperuntukkan bagi pelaku ghibah, seperti yang diceritakan Rasulullah Muhammad saw,“Tatkala aku dimi’rajkan Jibril, aku melewati suatu kaum yang mereka memiliki kuku-kuku dari tembaga. Dengan kuku-kukunya itu mereka mencakari wajah dan dada mereka. Lantas Aku bertanya kepada Jibril, “Siapa mereka itu, wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka orang-orang yang ketika hidup         di dunia, hobinya memakan daging manusia (berbuat ghibah).


Ghibah aktif dalam perspektif agama jelas-jelas dilarang. Bagaimana kalau seseorang hanya mendengarkan atau menonton tayangan  infotainment di tv yang berisi  gosip murahan, bahkan ia begitu menikmati dan ketagihan ketika menonton dan mendengarkan siaran infotainment yang berbau ghibahAl-Adzkar mengatakan, “Ghibah itu diharamkan tidak saja bagi pelakunya, tetapi juga diharamkan bagi pendengar untuk mendengarkannya atau bagi penonton untuk menyaksikannya". Lebih lanjut imam Al-Nawawi mengatakan, "Wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang ingin berbuat ghibah untuk melarang semampunya berdasarkan ketentuan dalam amar ma’ruf nahi mungkar”.  Dengan demikian, bagi siapapun yang mendengarkan orang lain sedang berghibah, wajib untuk  mengingatkan  dengan menasehatinya atau memotong pembicaraan yang berbau ghibah itu dengan membelokkan kepada topik pembicaraan yang lain.  Bahkan, ketika seseorang  berada di suatu forum, mereka semua begitu asyik  berghibah sementara ia tidak sanggup menasehatinya, forum itu harus ditinggalkan.  Apabila tidak ia lakukan, sungguh ia telah berbuat maksiat. Apabila ia mengingatkan teman-temannya yang lagi menggunjing  dengan lisannya, "Diam" (berhentilah dari ghibah) sementara hatinya menginginkan ghibah itu tetap berlanjut, yang demikian itu termasuk katagori  nifaq dan pelakunya berdosa. Seharusnya ketika melarang secara verbal (lisan), hatinya pun ikut  ingkar. itu? Imam Al-Nawawi dalam kitabnya


Bagaimana kalau yang hadir dalam forum itu melakukan ghibah jama'iy (menggunjing secara kolektif), sementara ia tidak mampu untuk mengingkarinya atau ia mengingkari namun ditolak dan ia tidak mendapatkan jalan untuk meninggalkan forum tersebut? Solusinya, hendaknya ia berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hatinya, atau dengan hatinya saja, atau dengan memikirkan hal lain agar konsentrasinya tidak tertuju pada apa yang dighibahkan secara kolektif itu.  Apabila ia menemukan jalan untuk keluar dari majelis itu sementara mereka yang hadir dalam forum itu terus tenggelam dalam ghibah, wajib baginya untuk segera meninggalkan tempat itu”. Haram baginya ikut nimbrung dan sengaja mendengarkan atau membiarkan  ghibah dalam forum itu semakin liar tidak terkendali.  Allah swt mengingatkan dengan firman-Nya dalam surah Al-An‘am ayat 68 yang artinya: "Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu) (Al-An‘am:68). “Dan apabila mereka (mukminin) mendengar ucapan laghwi (ucapan sia-sia), mereka berpaling darinya. (Al-Qashash:55); “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya" (Al- Isra’:36).


Tentunya sangat ideal di mata Allah, ketika ada yang mendengar seseorang  sedang asyik melakukan ghibah (menggunjing) orang Islam yang lain, terlebih yang digunjing itu  dikenal mempunyai reputasi yang baik, dia mampu melarang dan menghentikan gunjingan  tersebut demi mempertahankan kehormatan (integritas) dan reputasi orang itu. Kalau ini bisa dilakukannya, kelak   di akhirat Allah akan menjaga dirinya dari jilatan api Neraka sebagaimana riwayat hadis yang bersumber  dari Abu Darda’,  Nabi Muhammad saw bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang membela seorang mukmin dari seorang munafiq yang menggunjingkan dirinya, Allah akan menurunkan kepadanya satu malaikat yang akan memelihara dagingnya di hari Kiamat nanti dari jilatan api Neraka. Dan barangsiapa yang melemparkan kepada seorang mukmin sesuatu yang dimaksudkan untuk mencelanya, Allah akan menahannya di jembatan Jahannam sehingga dia menarik kembali apa yang telah diucapkannya itu”.


Menggunjing merupakan pekerjaan yang kontraproduktif, yang  --menurut imam Al-Ghazali-- disebabkan beberapa hal, antara lain: (1) Menggunjing karena sedang menghilangkan rasa sebal kepada yang digunjing (2) Karena sedang mendukung teman yang kebetulan menjadi rival dari yang digunjing (3) Merasa tengah dimusuhi orang yang digunjing (4) Ingin membersihkan diri dari image  yang tidak baik (5) Ingin dianggap lebih tinggi dari orang lain (6) Semata-mata karena dengki (7) Sekedar bergurau (8) Menganggap remeh  orang yang digunjing (9) Karena kagum kepada yang digunjing (10) Karena kasihan kepada yang digunjing, atau  (11) Bisa juga karena marah yang marahnya itu karena membela kebenaran.


Bagaimana cara bertaubat kalau terlanjur berghibah (ghibah aktif) atau ikut menjadi pendegar ghibahghibah pasip)? Apakah cukup bertaubat dari ghibah dengan memintakan ampun kepada Allah untuk orang yang dighibah? Ataukah harus memberitahukannya dan meminta kehalalannya? Jawabannya, kalau terlanjur berghibah (ghibah aktif), cara bertaubat tidak perlu memberitahukan ghibah itu kepada yang dighibahi, tetapi cukup memintakan ampun untuknya dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat dia mengghibah. Pendapat inilah yang dipilih Ibnu Taimiyah sebagaimana dinyatakan dalam kitabnya, Nashihati li al-Nisa’. Berbeda dengan pandangan Ibn Taimiyah,  Imam Al-Nawawi dalam kitabnya, Riyad al-Shalihin menulis, “Apabila seseorang telah terlanjur melakukan ghibah kepada orang lain, ia dituntut segera bertaubat dari dosa itu dengan memenuhi empat syarat taubat, yaitu: (1) Hentikan segera perbuatan ghibah itu, (2) Sesali dalam lubuk hati yang paling dalam, (3) Berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan ghibah  itu, dan (4) Kembalikan apa saja yang pernah diambil secara tidak sah kepada pemiliknya atau meminta maaf dari kesalahannya itu dan memohon supaya dibebaskan dari semua tuntutan.


Sekali lagi, pekerjaan menggunjing bukan hanya kontraproduktif dan menyakiti
orang lajn, tetapi juga berimplikasi lahirnya dosa besar. Meskipun demikian dalam beberapa kasus tertentu, pakar hukum Islam membenarkan ghîbah untuk alasan khusus, antara lain:  (1) Ketika melaporkan perbuatan kriminal kepada petugas berwenang. Dengan demikian, diperbolehkan menyampaikan keburukan seseorang kepada pejabat yang berwenang (misalnya kepada polisi dan hakim) sebagai langkah preventif mencegah terjadinya kemungkaran agar tidak terulang kembali. Pada saat dia lapor, si pelapor  menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah (dispensasi) untuk mengadukannya. Allah swt berfirman dalam surat Al-Nisa':148, yang artinya: "Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui", (2) Ketika meminta pertolongan untuk mencegah kemungkaran (3) Ketika menegur kelakuan orang lain (dakwah) atau ketika menjadi saksi demi menyelamatkan orang yang tak bersalah (4) Ketika menanyakan identitas seseorang (gelar, pangkat, dsb.), (5)  Menyebut keburukan seseorang ketika meminta fatwa.  Seorang wanita bernama Hindun meminta fatwa kepada Nabi Muhammad saw menyangkut perilaku buruk suaminya Abu Sufyan dengan menyebut kekikirannya,  apakah dia boleh mengambil uang tanpa sepengetahuannya, sebagaimana diilustrasikan dalam riwayat hadis sebagai berikut, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir, ia tidak memberi nafkah yang mencukupi aku dan anakku, kecuali apabila aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya. Apakah ini dibolehkan?” Rasulullah Muhammad saw menjawab, “Ambillah sekedar dapat mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang baik (ma’ruf)”, (6) Menyebut keburukan seseorang yang telah biasa mendemonstrasikan keburukannya tanpa malu di depan publik.  Misalnya menyebut si A (namanya),  sebagai pemabuk, karena sering meneguk minuman keras dan mabuk di depan publik; atau menyebut si A (namanya) sebagai koruptor karena telah mengambil uang negara untuk kepentingan pribadi atau kroninya, (7) Menyampaikan keburukan seseorang kepada pihak-pihak yang sangat membutuhkan informasi. Misalnya dalam konteks menerima lamaran, kekurangan calon pelamar boleh diungkapkan. Dengan demikina, ketika dimintai pendapat (diajak musyawarah) dalam memilih pasangan hidup, bagi yang diajak musyawarah dilarang menyembunyikan kejelekan-kejelekan yang diketahuinya. Rasulullah Muhammad saw. ketika dimintai pendapat Fathimah bintu Qais radhiallahu 'anha dalam menentukan pilihan menerima pinangan antara Muawiyyah atau Abu Jahm, Rasulullah Muhammad saw menasehati dangan sabdanya, “Muawiyyah seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Sementara Abu Jahm tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (ringan tangan, suka memukul). Bagaimana dengan seorang pengarang buku yang dengan jelas menyebut seseorang (tanpa inisial) dalam tulisannya, misalnya "Si fulan itu begini dan begitu" dengan maksud menyebutkan kekurangan dan menghinanya? Semuanya ini termasuk ghibahghibah. Demikian juga apabila seorang pengarang menulis, "Sebenarnya pendapat ini salah dan merupakan  kejahilan, kebodohan, kelalaian, dan sebagainya". Tulisan semacam  ini tidak disebut ghibah. Sebab yang dinamakan ghibah itu menyebut secara langsung terhadap pribadi seseorang atau suatu kaum secara langsung dan detail (terperinci). dan hukumnya haram. Tetapi jika tulisan itu dimaksudkan untuk menerangkan kesalahan seseorang agar tidak diikuti dan ditiru orang lain atau dengan maksud menerangkan lemahnya satu-satu pendapat itu agar orang lain tidak terpedaya kepadanya, dalam konteks seperti tidak dikatagorikan


Sudah menjadi barang lumrah, ketika kita berada dalam satu kelompok diskusi atau dalam suasana perbincangan santai, kita sering kali hanyut dalam pembicaraan yang mengarah kepada kejelekan dan mendiskriditkan seseorang, entah yang memulai pembicaraan itu kita atau orang lain. Yang pasti, ketika  kita ikut larut dalam memperbincangkan dan menggunjing orang lain, berarti di forum itu telah terjadi ghibah. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi kasus yang demikian? Berikut ini salah satu cara untuk menghindari dan menjauhkan diri dari ghibah: (1) Mengidentifikasi apakah apa yang dibicarakan itu termasuk ghibah atau bukan? Caranya mudah, yaitu bayangkan seandainya orang yang kita bicarakan itu mendengar apa yang kita bicarakan, dia spontan merasa antipati, tidak senang, dan marah. Kalau indikatornya seperti ini, berarti pembicaraan itu termasuk  ghibah, (2) Setelah mengetahui ghibah itu hukumnya haram dan pelakunya mendapat sanksi dosa besar, berusahalah secara maksimal untuk menjauhinya dengan melakukan kontrol diri dan menyeleksi apa yang pantas untuk dikatakan. Apabila diketahui, apa yang akan kita katakan itu dikatagorikan ghibah, harus ditahan dan jangan dinyatakan secara verbal. Selanjutnya, jika kita menyadari, apa yang terlanjur dikatakan itu merupakan ghibah karena khilaf dan tidak sengaja, sesegera mungkin bertobat (beristighfar) dan bertekad lagi untuk lebih hati-hati dalam berbicara, (3) Merenungkan dan meyakinkan diri sendiri, membicarakan kejelekan orang lain sama sekali tidak akan menambah derajat (prestise) kita. Justru orang yang sering berbuat ghibah(self-confidence) dan tidak dipercaya orang lain, (4) Menyadari bahwa seseorang yang kita bicarakan kejelekannya itu sebenarnya adalah saudara kita sendiri, bukan musuh yang harus dihujat ataupun dicela. Sekiranya seseorang tersebut melakukan perbuatan tercela atau yang kurang berakhlak, bisa jadi karena kebodohannya. Sudah semestinya  kita menunjukinya kepada jalan yang lurus, bukannya malah menggunjingnya dan menjadikannya bahan ejekan, (5) Jika kita diajak membicarakan kejelekan orang lain, kita harus menyadari bahwa ada dua kemungkinan tentang orang yang menggunjing, pertama dia belum tahu haramnya ghibah menurut Islam atau kemungkinan kedua, dia sedang khilaf tanpa sengaja telah menggunjing. Berusahalah untuk menghentikannya secara ma’ruf tanpa menyinggung perasaannya. Pertama, ingatkan secara lisan dengan nasehat yang baik dan bijak bahwa kita dilarang berbuat ghibah. Jika dia belum berhenti menggunjing, kita bisa menanggapi seperlunya kemudian berusaha mengalihkan kepada topik pembicaraan yang lebih baik. Jika sekiranya kedua upaya itu belum menghentikannya berbuat ghibah,  diam adalah lebih baik, seraya berdzikir kepada Allah dan berdoa supaya orang tersebut dijauhkan dari perbuatan ghibah. akan gampang kehilangan kepercayaan diri


Mestinya semuanya harus menyadari, tujuan hidup manusia dalam  masyarakat, agar masing-masing dapat survive  dengan satu identitas yang baik sehingga dalam interaksi sosial itu tercipta hubungan yang harmonis, damai, dan saling memberi manfaat. Ghibah merupakan virus ganas yang dapat menggerogoti identitas dan integritas diri, yang pada gilirannya akan merusak interaksi sosial yang harmonis dan  damai dalam masyarakat. Ketika ghibah atau pergunjingan itu meluas, kebaikan berubah menjadi keburukan;  ketenangan dan kedamaian berubah menjadi permusuhan dan dendam.


Mulai saat ini kita harus bertekad untuk menjauhi ghibah dan menyibukkan diri dengan aib atau kekurangan yang ada pada diri sendiri. Barangsiapa sibuk dengan aibnya sendiri dan tidak mengorek aib orang lain bahkan mau  menjunjung kehormatan orang lain, sungguh ia telah mengenakan salah satu dari perhiasan akhlak yang mulia.


Wallahu A’lam Bi al-Shawwab.

Comments (0)
Tulis komentar
Detail kontak anda:
Comment:
Security
Silahkan inputkan kode anti-spam yang bisa terbaca pada gambar ini.